apa kabar kawan,
long time no see
kemana aja lo
atau lu mati
senang rasanya bertemu kembali….!!!
Reffrain lagu dari steven n the coconut trezz mungkin sangat tepat menggambarkan kembalinya sy di dunia menulis (lebih tepatnya belajar menulis yang sempat terhenti).
Masih teringat di memori, awal mei 2009, perjalanan merantau ke ibukota dimulai. Usai lulus, diwisuda, dan berkampanye untuk bang Catur pada pemilihan legislatif yang lalu, berangkatlah sy merantau ke Jakarta. Bersama bang Catur pula saya berangkat ke Jakarta , menumpang di mobilnya (bang Catur juga memutuskan hijrah (kembali) ke Jakarta, sesuai dengan perhitungan awal dia dalam membangun kariernya sebagai pengacara). Terakhir, senior saya di kampus ini beberapa kali muncul di media sebagai kuasa hukum Petisi 28 yang mengajukan Judicial Review ke MA mengenai Keppres pembentukan Satgas Mafia Hukum. Kemunculan di televisi, adalah pada saat TVOne yang menayangkan acara debat. Sy kirimkan sms ke dia, “wah, mulai tenar nih bang, siang ada di koran, malam ada di tv. SUKSES bang” Begitu acara live tersebut usai, balasan atas sms itu pun datang, “Ok, mantap, tq”.
Harapan untuk dapat bekerja dan menapaki karier pribadi membuncah saat itu. Ketiadaan fasilitas di Jakarta (tidak seperti di Semarang, dimana PC di rumah terkoneksi dengan Internet), membuat sy lupa untuk selalu konsisten dalam belajar menulis.
Hari ini, sy berada di Purwokerto, mendapat penugasan disini oleh perusahaan yang mulai mempekerjakan saya sejak Juli 2009. Perusahaan inilah perusahaan pertama dan satu-satunya yang memanggil untuk tes psikotest, interview, dan menerima saya untuk bergabung, dari sekian banyak perusahaan lain yang saya telah saya kirimi surat lamaran pekerjaan. Dengan diterimanya saya di perusahaan ini, selamatlah muka saya, karena cap sebagai pengangguran setelah lulus kuliah telah terhapus. Sangat berat rasanya saat itu menganggur walaupun untuk beberapa bulan bahkan minggu saja. Beban psikologisyang berat bagi saya yang telah bertaruh pada keluarga karena memutuskan merantau, ditambah masa kuliah yang sy tempuh cukup lama (6,5 tahun waktu yang sy hamburkan untuk menyelesaikan S1, suatu hari nanti, sy bertekad untuk menebus ini dengan capaian prestasi gemilang). Saat itu, sy harus bertanggungjawab secara moral kepada keluarga untuk bisa secepatnya bekerja di perusahaan yang menjanjikan karier cemerlang di masa datang
Beruntunglah, ada perusahaan yang mau menampung saya dan memberi kesempatan untuk meraih karier se-cemerlang mungkin. Lebih-lebih, sy diterima di “jalur khusus”, dimana disinilah akan dilahirkan pemimpin-pemimpin perusahaan di masa yang akan datang. Di tempat lain (perusahaan lain), biasa di sebut management trainee (MT).
Berkat perusahaan ini pula, saya bisa kembali untuk belajar menulis, karena fasilitas laptop yang sy terima plus modem. Sy sungguh bersyukur untuk itu.Apakah perusahaan ini akan mempertahankan sy karena prestasi-prestasi yang saya ukir ataukah menterminate saya dalam masa kontrak selama 2 tahun atau menarik kembali fasilitas-fasilitas yang saya dapat saat ini hingga sy bisa menulis lagi ? Entahlah, yang jelas saya harus bekerja keras agar saya tetap bisa mengukir prestasi karier yang cemerlang dan tetap mendapat benefit seperti saat ini hingga bisa menulis lagi.
Semoga, penggunaan fasilitas kantor seperti ini untuk urusan diluar kantor, bukan merupakan pelanggaran etika perusahaan. Mengingat fasilitas dari kantor tersebut berupa harta tetap (laptop dan modem), sementara yang berupa harta lancar (kartu gsm dan pulsa sebagai “peluru modem”nya ditanggung pribadi). Selain itu, apa yang saya tulis, merupakan (insya Allah) berkaitan dengan pemgembangan diri yang mungkin suatu saat juga berguna bagi perusahaan ini. Sy menulis juga di luar waktu kerja atau jam kantor, karena sy menghindari cap sebagai koruptor, karena telah melakukan korupsi waktu. Semoga penilaian sy yang subjektif ini dibenarkan oleh HRD dan BOD (hehehe….daripada digunakan untuk browsing link video mirip artsi yang sangat heboh di negeri kita, masih mending begini kan bu/pak…piss).
Banyak fase hidup sy yang tak terekam dalam tulisan disini semenjak posting terakhir di blog ini, atau katakanah sejak keberangkatan merantau saya. Karena, dalam posting kali ini, sy hanya ingin sekedar “memanaskan kembali mesin otak” dalam menulis sebuah posting. Mungkin, suatu saat fase dalam hidup sy tersebut akan saya ceritakan dalam posting yang lain atau dalam bagian cerita posting yang lain.
Saking lamanya saya tidak membuka dashboard blog ini, hampir saya lupa bagaimana menggunakannya. Terlebih tampilannya sudah sangat berbeda. Jangankan cara menggunakannya, password dan username saja butuh beberapa menit untuk mengingat-ingatnya.
Terus terang, gairah saya menulis tergugah kembali setelah malam minggu hingga subuh kemaren (26 – 27 juni 2010) saya habiskan untuk membaca tuntas buku setebal lebih dari 500 halaman karya seorang politisi-intelektual Indra Jaya Piliang (IJP), judulnya “Mengalir Meniti Ombak ; Memoar Tiga Kekalahan”.
Sangat luar biasa buku ini, kekuatan pikiran dari penulis yang sekaligus pelaku dalam buku inilah yang yang mebuat sy tertegun, selain cerita didalamnya yang sungguh memukau. IJP menggambarkan “kekalahannya” dalam proses pilleg dan pilpres serta munas Partai Golkar yang semuanya terjadi di tahun 2009.
Sebelum menulis posting ini, sy terpikir untuk meresensi buku ini dan sy posting di blog ini, namun sy memutuskan menuliskan hal lain, mengingat, sekali lagi, tulisan kali ini baru “pemanasan”.
IJP adalah politisi Partai Golkar yang memutuskan terjun dalam kontestasi akbar bangsa ini yaitu pemilu tahun 2009 kemaren. Sebelumnya IJP adalah analis politik (dirinya lebih nyaman dengan penyebutan ini ketimbang pengamat politik), yang sering saya baca ulasannya saat masih mahasiswa dan menjadi aktivis dulu.
Isi cerita dalam buku ini menggambarkan kecermelangan seorang IJP yang telah matang sebagai aktivis. baik dalam kerja-kerja politiknya maupun dalam tataran ide dan nilai yang selalu coba dipegangnya secara teguh dalam kolam kotor penuh lumpur yaitu panggung politik. Sebuah hal yang patut diteladani bagi aktivis-aktivis muda yang masih bergerak di jalanan sebagai kekuatan ekstra parlementer yang mungkin suatu hari akan terjun pula di dalam pertarungan politik yang sesungguhnya (di dalam lembaga-lembaga politik).
Hal lain yang juga bisa diteladani (termasuk sy) adalah kemampuannya dalam menulis. Jarang ada aktivis politik yang punya kemampuan lebih sebagai penulis mumpuni. IJP adalah seorang aktor politik yang mampu menyeimbangkan keduanya, sehingga sy termasuk yang menobatkan dia sebagai politisi intelektual yang sudah jarang dimiliki negara kita sejak generasi Soekarno, M Hatta, Syahrir dan lain-lain meninggalkan kita.
Kepada bang IJP, walau sy tidak mengenalnya dan sama sekali bertemu dengan dirinya, saya hanya hanya bisa berdoa, tetap semangat dalam berjuang dan terus menginspirasi generasi muda, baik dalam aktivitas politik maupun dalam dunia tulis menulis. Mungkin dunia dan pemikiran kita berbeda, namun tulisan tulisan Anda telah menghidupkan kembali semangat belajar menulis saya. Thanks IJP.
Tiba-tiba teringat sebuah kata-kata, entah diucapakn oleh siapa sy juga lupa, tapi kira-kira begini, “hanya dengan tulisan, maka sejarah suatu bangsa akan tetap terekam”.
Purwokerto, 27 Juni 2010