Senin, 24 Maret 2008, usai berlibur di Blitar (sebenarnya bukan berlibur sih..karena lebih pada bantuin jaga sebuah toko yang jadi bisnis sampinganya ortu), ku pulang dengan kereta ekonomi MATARMAJA (Malang-Blitar-Semarang-Jakarta).
Saat beli tiketnya, petugas bilang kalau tempat duduk sudah habis. Artinya, kalau tetap beli,ya siap-siap duduk di lantai, beralaskan koran bekas, yang biasanya dijual 1000-an perak oleh para pengasong, yang sangat banyak jumlah dan jenisnya di kereta ekonomi. Tanpa pikir panjang, kubeli juga tiket tanpa nomor tempat duduk itu. Bagiku si, sebenarnya fine2 aja duduk di lantai, karena tempat duduk yang sempit di kereta ekonomi dan duduk berhadap2an dengan penumpang lain, buatku susah untuk sekedar selonjorkan kaki.
Perkiraanku pada saat itu, kereta tidak akan fully laoded. Ternyata eh ternyata, prediksinya meleset. Kereta sangat penuh penumpang, untuk sekedar selonjor kaki pun susah. Pengap, penuh asap rokok dan harus menahan buang air, karena kamar mandi pun diisi oleh penumpang.
Saat ku mencoba membuka percakapan dengan sesama penumpang yang duduk di lantai, terbetik informasi dari mereka. Pada umumnya mereka adalah pekerja dari daerah yang akan kembali menyerbu Jakarta, mencari sesuap nasi dengan menjadi montir bengkel, tukang kayu, penjual nasi bungkus, preman dan aneka profesi lainya.
Libur seperti ini adalah berkah bagi mereka, para pekerja. Mereka menghabiskan libur kemarin untuk kembali ke kampung halaman, menengok keluarga mereka. Menenangkan diri, setelah mengalami penat dan bisingnya kota.
Gambaran tadi memperlihatkan bahwa muara dari arus tenaga kerja muda adalah ibukota. Desa sudah tidak memberikan harapan bagi masa depan. Jadi pertanyaanya kemudian, masih berlakukah status negeri kita yang menyandang predikat NEGERI AGRARIS. Saat desa yang menyediakan lahan pertanian begitu luas sudah mulai ditiinggalkan oleh para pemuda yang sebenrnya di benak merekalah regenerasi pekerja di sektor pertanian bertumpu?
Bertani, setidaknya dua faktor sederhana yang menyebabkanya ditinggalkan oleh para anak muda (adapun yang berminat pada bidang ini, karena mereka tidak memiliki pilihan yang lain). Faktor pertama adalah faktor sosiologis, dimana bertani merupakan “kasta” terendah, kelas paling bawah, dimana seseorang dianggap kurang berhasil jika berprofesi sebagai petani, terutama jika anak muda yang berprofesi seperti itu.
Faktor kedua, adalah teknologi pertanian yang jauh dari modern. Sehingga, tidak efisien dan efektif. Penggunaan cangkul dan bajak masih mendominasi. Sehingga pekerjaan bertani adalah pekerjaan yang tidak mudah, karena full power. Karena itu montir sepeda motor (misalnya), adalah sebuah pekerjaan mudah dijalankan bagi anak muda desa yang dipilih daripada bertani. Dimana, pekerjaan semacam ini sangat banyak ditawarkan oleh kota besar.
Sehingga, perlu ada sebuah solusi atas dua faktor tersebut, sebelum sawah di desa2, benar2 kosong dan nganggur, beralih fungsi sehingga kesuburanya tidak terjaga.
Dukungan pemerintah sangat penting, karena potensi terbesar untuk merekayasa aneka solusi atas dua problem pertanian diatas ada pada mereka. Subsidi atas peralatan pertanian yang lebih modern, kemudahan akses untuk bahan produksi pertanian, serta perlindungan pemasaran yang membuat petani nyaman dan tidak dipermainkan oleh tengkulak.
Setelah itu, ketika pertanian (dalam arti yang sempit nih) sudah memiliki daya tarik untuk diterjuni, maka kendal sosiologis, yang m,emberikan stempel bagi para anak muda yang bertani sebagai anak muda yang kurang sukses, berangsur akan hilang. Kita pun menjadi negara agraris sejati, tidak seperti ini yang sembakonya harus didatangkan dari luar. Bentuk syukur kita kepada Tuhan adalah dengan mengoptimalkan sumber daya yang di anugerahkan0Nya kepada Indonesia, negara yang sangat kaya potensinya, tapi hasilnya banyak yang lari keluar, dan disikat oleh para koruptor.
0 Tanggapan ke “Padatnya Kereta Ekonomi Matarmaja”