Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia Jawa Tengah (IPHI Jateng), Bapak H Soewanto, SE. MM Dalam sebuah sambutan pada acara tarawih keliling di Hotel Pandanaran (bulan Ramadahan 1428 H) yang diselenggarakan oleh organisasi yang dipimpinya, mampaiakan sebuah pesan menarik kepada jamaah yang hadir pada malam itu.
Kepada para jamaah yang sebagian besar adalah Haji dan memiliki status sebagai orang tua, Bpk. Suwanto (yang juga pemimpin grup Aneka Ilmu, perusahaan di bidang buku dan percetakan yang cukup terkenal itu), meminta agar para orang tua mengikhlaskan, setidaknya salah satu putranya saja untuk mengikuti jejaknya sebagai pengusaha.
Hal ini dilandasi keprihatinan beliau atas minimnya minat yang dimiliki oleh para anak muda yang terjun sebagai wirausaha. Dimana kondisi lingkungan keluarga yang masih menganggap wirausaha adalah dunia yang tidak ramah dimasuki ikut membentuk pola pikir generasi muda untuk menjauhi profesi wirausaha. Hingga akhirnya dunia usaha di Negara kita di kuasai oleh etnis tionghoa, dan generasi muda kita hanya menggantungkan dirinya untuk dapat bekerja sebagai PNS atau TNI/Polri.
Menurut beliau, usaha itu tidak melulu berawal dari modal yang besar dan skala bisnis yang besar. Yang terpenting dalam berwirausaha adalah berani dan mau belajar. Sehingga dirinya sangata terbuka bagi anak muda yang mau belajar wirausaha darinya.
Agaknya sangat menarik, secuil harapan yang disampaikan Bpk. Soewanto, karena biasanya yang dimotivasi untuk menjadi wirausaha adalah para mahasiswa, pelajar dan anak muda, tetapi kali ini yang dimotivasi adalah orang tua agar mendorong putra-putrinya untuk menjadi pengusaha.
Wirausaha adalah sebuah profesi yang menuntut dua hal besar, yaitu kreatifitas dan mandiri. Tentu kita masih ingat, kekeslan Bung Hatta mengenai mental bangsa Indonesia setelah merdeka, yang masih malas bekerja keras, malas berfikir dan mau enaknya saja dengan potong kompas, yang disebutnya sebagai menal inlandeer. Mental yang terbentuk akibat penjajahan yang begitu lama menyebabkan bangsa kita mandul akan kreatifitas dan kemandirian.
Hal itu menjadi refleksi bagi diri saya sendiri. Saya kuliah di Administrasi Bisnis Universitas Diponegoo. Setelah sekian lama saya kuliah di dalamnya (saat menulis ini, tercatat sudah semester ke 12), tetapi anehnya saya tidak begitu menemukan spirit entrepreneurship. Memang spirit itu diulang-ulang dalam setiap pengajaran mata kuliah, tetapi saya tidak merasakan kehadiranya.
Sangat terasa bagi saya, sebagian doser mengajar dengan teori yang sudah tidak up-to-date, hal ini bila saya bandingkan dengan apa yang saya dapat dari seminar2 kewirausahaan. Dan bila diteliti lebih jauh, mata kuliah yang ada mengarahkan kita sebagai pekerja. Artinya, ketika lulus nanti, kita dipersiapkan untuk bekerja, bukan sebagai pencipta lapangan kerja. Padahal dari hari ke hari lapangan kerja semakin menyempit.
Belum lagi proses skripsi dengan dua dosen pembimbing, yang kadang kala pemahaman atas sebuah sistematika dan metodologi penyusunan skripsi bisa bertentangan. Hal ini mengakibatkan proses skripsi di kampus saya memakan waktu yang cukup lama. Rata-rata membutuhkan lebih dari satu tahun. Menurut saya pribadi, materi skripsinya sendiri tidak sulit-sulit amat, akan tetapi birokratisasi akademis para dosen bisnis (jurusan administrasi bisnis) lah yang sebabkan semua terasa sulit dan memakan waktu.
Ini artinya pesan Bpk Soeanto kurang satu lagi. Setelah orang tua yabg diminta mengikhlaskan putra-putrinya untuk menjadi wirausaha, dengan mulai melonggarkan kekangan cita-cita para putra-putri mereka, maka yang harus mendapat pesan lagi adalah para dosen Administrasi Bisnis, agar mengikhlaskan para mahasiswanya untuk menjadi pengusaha, dengan menumbuhkan iklim inofatif dan kreatif, bukan menumbuh suburkan iklim birokratisme ala PNS.
0 Tanggapan ke “Ikhlaskan Sebagai Pengusaha…!!!”