Rahasia Sukses Dari Puasa

Beberapa hari yang lalu saat harus menjadi sopir, mengantar Bapak dan Ibu tarawih keliling, kucermati betul-betul isi kultum yang disampaikan Drs. Nafis Junalia MA, beliau ini petinggi di IAIN Walisongo, Bapak dari si Nuklir, mahasiswa ANE FISIP Undip angkatan 2004 (Kepada beliau saya sampaikan melalui ini permohonan ijin untuk me-relay isi kultumnya). Isinya secara garis besar mengungkap rahasia sukses yang dikupas dari filosofi berpuasa. Silakan disimak, mungkin ada yang bisa diambil manfaatnya (atau lebih tepat sebenarnya, memaksa penulis untuk bisa terus menyimak dan mengingatnya) .

Puasa ramadhan, di malam harinya diwajibkan untuk niat bahwa esok hari akan menunaikan puasa, bahkan imam salat tarawih dan witir selalu akan membimbing jamaahnya untuk melafalkan niat puasa ini. Dalam konteks kehidupan, seseorang yang menginginkan sukses, harus memiliki niat yang kuat untuk mencapai sukses. Bahasa teoritiknya, niat adalah integralitas visi dan misi. Menetapkan visi yang mantap dan mencari cara pencapaiannya melalui rumusan misi yang terukur dan terarah. Ini adalah poin yang pertama.

Poin kedua, yaitu orang berpuasa disunnahkan untuk melaksanakan sahur sebelum waktu imsak tiba. Sehingga dalam menjalankan ibadah puasa, seorang muslim akan tetap kuat sampai nanti waktu berbuka puasa tiba. Hakikatnya adalah kalau mau sukses, dibutuhkan modal yang memadai. Apakah itu modal?, jawabannya bisa kita ulas melalui kaca mata dunia perbankan. Penyaluran kredit (lending) di perbankan dikenal istilah 5C (Character, Capacity, Capital, Collateral, Condition). Berikut ini penjabaran singkatnya

  1. Character : mengenai sifat atau watak seseorang
  2. Capacity : Kemampuan bayar dilihat dari skala usaha atau skala pendapatan
  3. Capital : modal uang, gedung, peralatan yang dimiliki untuk memulai usaha, dan atau modal pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki berkaitan dengan bidang usaha yang akan dijalani
  4. Collateral : nilai jaminan yang dimiliki untuk mendapatkan nilai kredit yang dibutuhkan (biasanya 50 %)
  5. Condition : situasi ekonomi, sosial, politik apakah mendukung dalam pelaksanaan bidang usaha yang dipilih

Nah, jelas di penjelasan diatas, bahwasanya modal itu berarti uang, ilmu dan pengalaman. Tanpa modal, mustahil seseorang akan meraih sukses dalam bidang yang akan ditekuninya. Tentu kebutuhan akan modal ini, seberapa besar dan bagaimana proporsinya akan berbeda-beda sesuai dengan karakteristik lapangan kehidupan masing-masing.

Poin ketiga, puasa itu menuntut konsistensi dari mulai imsak hingga waktu berbuka puasa. Puasa akan batal jika satu menit saja dari sebelum waktu berbuka kita melakukan perbuatan yang membatalkan puasa itu sendiri (makan, minum, berhubunga intim). Puasa menetut kekuatan dan keteguhan hati untuk terus bertahan, sampai pada yang garis telah ditentukan. Setelah waktu berbuka puas tiba, kita boleh memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar manusia secara umumnya (makan, minum, berhubungan intim)

Maknanya adalah, mencapai sukses itu perlu persistensi (tahan uji, tahan banting) , konsisten (jangan mudah silau pada hijaunya rumput tetangga), tabah dan sabar sampai benar-benar tercapai cita-cita (Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan sholat, karena sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’- al baqarah : 45).

Lalu kemudian kita akan mengenal diferensiasi dalam puasa, yaitu puasanya orang awam dan puasanya orang khusus. Puasanya orang awam adalah puasanya seseorang yang memang mampu menahan untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan intim, namun tetap saja mudah marah, masih tetap suka membicaraan aib orang lain, memandang dengan penuh birahi. Sehingga, dikatakan Nabi, puasa seperti ini adalah puasa yang tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dahaga.

Sebaliknya, puasanya orang khusus adalah puasanya seseorang yang tidak berhenti pada keperluan menahan makan, minum dan berhubungan intim, namun terus mengerjakan amal saleh. Bentuknya bisa bermacam-macam. Menyantuni fakir miskin, amanah dalam menunaikan pekerjaan, tetap bersemangat, tekun dan rajin dalam belajar dan lain-lain.

Hal tersebut adalah gambaran dari kehidupan seseorang, sesorang yang ingin sukses harus memiliki daya inovasi, daya kreatif, daya imanijasi, dan kelebihan-kelebihan lain (daya linuwih). Sukses tidak dilahirkan dari seseorang yang biasa-biasa saja, pejah gesang kula ndherek mawon, setia pada keadaan nyaman dia, tidak mau menerima sesuatu yang baru yang mungkin mengandung unsur kebenaran. Sukses akan didapat dari seseorang yang senantiasa mau belajar, mencari kemungkinan-kemungkinan baru, berani keluar untuk mengambil resiko.

Poin terakhir, yaitu adalah adab dalam berbuka puasa, dimana kita dianjurkan dalam berbuka puasa, makan dan minum secukupnya. Jangan berlebihan, selain tidak baik buat tubuh, ibadah selanjutnya masih menunggu. Terlalu kenyang menyebabkan mengantuk, perut yang penuh tidak nyaman dalam menjalankan belasan rakaat shalat tarawih dan witir.

Hakikatnya adalah, ketika dalam berusaha, sudah menampakan hasil yang dicita-citakan, misalnya dalam berbisnis, bisnis kita sudah menampakan pertumbuhan, kita tidak boleh langsung berfoya-foya, bahasanya Maha Patih Gajah Mada , tidak memakan buah palapa. Karena perjalanan masih panjang. Masih banyak tugas-tugas lain menanti (maka apabila kamu telah selesai -dari suatu urusan-,kerjakanlah dengan sungguh-sungguh -urusan- yang lain : Al insyirah :7)

Sekian, semoga bermanfaat.

Billahi Taufiq wal Hidayah

1 Tanggapan ke “Rahasia Sukses Dari Puasa”



Tinggalkan Balasan